Back   
KETIKA AIR MATA MENJADI DOA
Ada seorang pelari maraton yang sudah berlari dua puluh kilometer, kakinya terasa remuk, napasnya habis, dan ia hampir menyerah. Tapi ia tidak berhenti. Ia terus maju, bukan karena ia kuat, melainkan karena ia tahu ada garis finish di depannya. Mazmur 6 adalah nyanyian dari seseorang yang sedang berada di titik itu, di tepi batas, tubuhnya lemah, air matanya tidak berhenti, namun tetap berlari menuju satu arah, yaitu Tuhan. Di tengah tangisan itu, ada tiga kebenaran yang bisa kita pelajari:
Pertama, Berani Jujur kepada Tuhan.
Kata pertama yang digunakan Daud adalah "kasihanilah aku": sebuah permohonan. Bukan sekadar meminta bantuan, melainkan seruan dari orang yang sadar bahwa ia tidak punya tempat untuk berteduh. Daud tidak menyembunyikan kondisinya: "'Lesu aku karena mengeluh;" (ay. 7). Kata "lesu" berarti kelelahan total, habis sampai ke sumsum. Kejujuran Daud di hadapan Tuhan bukan kelemahan, itu adalah iman yang dewasa. Kita berpura-pura semuanya baik-baik saja, Ia mengundang kita membawa diri kita yang sesungguhnya.
Kedua, Air Mata Adalah Bahasa Doa
"Setiap malam aku menggenangi tempat tidurku" (ay. 7), yang berarti berenang atau mengapung. Daud tidak hanya menangis, ia menggambarkan air mata yang mengalir sampai membasahi seluruh ranjangnya. Ini bukan lebay. Ini adalah ekspresi doa yang paling dalam dan paling tulus. Dalam tradisi Yahudi, air mata dianggap sebagai "doa yang melampaui kata-kata". Tuhan tidak pernah membuang air mata itu,
Mazmur 56:8 mengingatkan kita bahwa Tuhan menyimpan setiap air mata kita dalam kirbat-Nya. Jika hari ini kamu berdoa sambil menangis, ingatlah bahwa itu adalah doa yang paling kuat yang bisa kita panjatkan.
Ketiga, Keyakinan Mendahului Jawaban. Di ayat 9, terjadi pergeseran yang luar biasa: dari ratapan ke deklarasi: "Menjauhlah dari padaku, kamu sekalian yang melakukan kejahatan." Tidak ada yang berubah secara fisik, kondisi Daud mungkin sama. Tapi sesuatu telah berubah di dalam dirinya. Kata kunci di sini adalah bahwa TUHAN telah mendengar. Bentuk kata kerja ini menunjukkan suatu tindakan yang sudah selesai dan pasti. Daud berbicara tentang masa depan dengan keyakinan masa lalu. Itulah iman yang sejati: bukan menunggu kondisi berubah untuk percaya, melainkan percaya sebelum kondisi berubah.
Pelari maraton itu akhirnya melewati garis finish, bukan karena ia tidak pernah ingin menyerah, melainkan karena ia terus berlari dalam keadaan apapun. Mazmur 6 mengajarkan kita bahwa iman bukan berarti tidak pernah hancur. Iman adalah tetap berlari kepada Tuhan, bahkan ketika air mata mengaburkan pandangan mata kita, AMIN (ES)